Loading
Showing posts with label tentang islam. Show all posts
Showing posts with label tentang islam. Show all posts

Saturday, November 14, 2015

Sejarah Mesjid Kubah Emas (Dian Al-Mahri), Maruyung, Limo, Cinere, Kota Depok

Pada kesempatan kali saya akan mencoba posting tentang mesjid kubah emas di kota depok

Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kubah Emas berada di Jalan Maruyung raya, Kel. Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Masjid megah ini berkapasitas 20 ribu jemaah berdiri kokoh di atas lahan seluas 70 hektare. Masjid ini mulai dibangun April 1999 oleh seorang dermawan, pengusaha asal Banten bernama Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid, istri dari Drs H. Maimun Al Rasyid, yang membeli tanah kawasan ini sejak tahun 1996. Rencananya, selain masjid, lahan ini akan dijadikan Islamic Centre. Nantinya akan ada lembaga dakwah, dan rumah tinggal. Semua bangunan tersebut merupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan terpadu yang diberi nama Kawasan Islamic Center Dian Al-Mahri.

Masjid Dian Al Mahri dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha 1427 H yang kedua kalinya pada tahun itu. Pembangunannya sudah berlangsung sejak tahun 1999, namun baru dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006. Setelah shalat Idul Adha, pemilik masjid langsung meresmikan masjid ini. Ada sekitar 5 ribu jemaah yang mengikuti prosesi peresmian masjid ini.

Spesifikasi Masjid

Bangunan masjid memiliki luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8.000 meter persegi. terdiri dari bangunan utama, mezamin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, ruang sepatu, dan ruang wudhu. Masjid mampu menampung 15 ribu jemaah shalat dan 20 ribu jemaah taklim. Masjid ini merupakan salah satu di antara masjid-masjid termegah di Asia Tenggara.

Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Kubah utama bentuknya menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil lainnya memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter.

Relief hiasan di atas tempat imam terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Ruang utama masjid memiliki ukuran 45×57 meter, dapat menampung sebanyak 8.000 jamaah. Masjid ini memiliki 6 minaret berbentuk segi enam yang tingginya masing-masing 40 meter. 6 minaret ini dibalut granit abu-abu dari itali dengan ornamen yang melingkar. Pada puncak minaret terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat.
Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu sholat dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan komputer.

Interior masjid ini menampilkan pilar-pilar kokoh yang tinggi menjulang untuk menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang dikerjakan oleh ahli dari Italia.

Kemegahan Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri

Emas pada Masjid Dian Al Mahri

Masjid ini disebut dengan Masjid Kubah Emas, sesuai namanya masjid ini memang menggunakan material emas dengan 3 teknik pemasangan: pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota/pilar, kedua gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab, yang ketiga gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara.

Pengurus dan pengelola masjid tidak mengungkapkan informasi mengenai total biaya pembangunan dan juga berat emas keseluruhan yang ada di kompleks masjid ini. Hanya ada informasi ketebalan emas yang melapisi kubah. Setiap kubah memiliki ketebalan emas 2 sampai 3 milimeter. Emas kubah tersebut kemudian dilapisi lagi dengan mozaik kristal.

Perlu diketahui bagi Pengunjung:

Masjid ini terbuka untuk umum, namun demikian ada beberapa bagian yang harus tetap steril seperti menara masjid. Meskipun dibuka untuk umum, namun Masjid Dian Al Mahri tutup pada hari Kamis, menurut pengurus masjid, hari kamis digunakan untuk keperluan persiapan ibadah shalat Jumat keesokan harinya. Sedangkan pada hari lainnya masjid dibuka pada pukul 10.00 pagi hingga 20.00 malam dan untuk shalat subuh hingga pukul 07.00 pagi (keterangan selengkapnya dapat ditanyakan pada pengurus masjid). Jumlah pengunjung biasanya membeludak pada hari Jumat sampai Minggu. Saat Shalat Jumat, minimal 5 ribu jemaah memadati masjid. Sementara pada hari Minggu, jumlah pengunjung biasanya mencapai 10 ribu orang. Sedangkan pada hari-hari biasa, jumlah jemaah tidak terlalu banyak.

Pengunjung bebas keluar masuk masjid, namun demikian ada beberapa aturan yang harus dipatuhi agar suasana ibadah tetap nyaman. Misalnya pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman ke lingkungan masjid. Anak di bawah usia 9 tahun juga dilarang memasuki lingkungan masjid.

Untuk masuk ke dalam masjid, diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat, sehingga kalau berkunjung kesana khususnya kaum hawa harus mengenakan jilbab. Alas kaki/sandal harus dititipkan ke bagian penitipan, dan tidak boleh ditinggal diluar. Tempat penitipan alas kaki pada jam-jam shalat menjadi sangat ramai dan penuh. Pada siang hari halaman luar lantai depan masjid sangat panas namun pengurus masjid memberikan karpet plastik untuk mengurangi panasnya lantai halaman masjid. Pengunjung dilarang menginjak rumput yang ada di taman sekitar mesjid. Bagi pengunjung yang ingin berteduh dan sekedar beristirahat, di seberang masjid ada ruang serbaguna yang disediakan. Biasanya para pengunjung menggelar tikar di ruang serba guna ini sambil mengagumi keindahan masjid ini.

Untuk masuk ke dalam masjid, diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat, sehingga kalau berkunjung kesana khususnya kaum hawa harus mengenakan jilbab. Alas kaki/sandal harus dititipkan ke bagian penitipan, dan tidak boleh ditinggal diluar. Tempat penitipan alas kaki pada jam-jam shalat menjadi sangat ramai dan penuh. Pada siang hari halaman luar lantai depan masjid sangat panas namun pengurus masjid memberikan karpet plastik untuk mengurangi panasnya lantai halaman masjid. Pengunjung dilarang menginjak rumput yang ada di taman sekitar mesjid. Bagi pengunjung yang ingin berteduh dan sekedar beristirahat, di seberang masjid ada ruang serbaguna yang disediakan. Biasanya para pengunjung menggelar tikar di ruang serba guna ini sambil mengagumi keindahan masjid ini.

Rute Menuju ke Masjid Kubah Emas

Jalan yang lebih mudah dan tidak berliku-liku untuk menuju ke Masjid Kubah Emas lebih baik melewati RS Fatmawati. Dari arah Jakarta masuk tol arah ke Pondok Indah dan keluar Fatmawati dan belok ke kiri, bila tidak lewat tol ikuti jalan TB Simatupang hingga belok ke kiri RS Fatmawati. Setelah itu ikuti jalan, melewati dua lampu merah hingga pasar Pondok Labu dan sampai di kampus UPN, kemudian ambil ke arah kanan. Ikuti jalan melewati Golf Pangkalan Jati sampai lampu merah dan belok ke kiri ke arah Depok. Jalan ini tinggal lurus saja terus sampai ke Cinere Mall, melewati SPBU, terus hingga sampai Masjid Dian Al-Mahri yang ada di sebelah kiri jalan. Selepas Cinere Mall, memasuki daerah Limo Maruyung kondisi jalan menuju ke lokasi agak rusak berlubang dan cukup sempit hanya 2 jalur, dan harus sedikit mengantri bila berpapasan dengan rombongan yang menggunakan bis-bis besar pariwisata. Jalan lain menuju masjid ini yaitu melalui jalan Sawangan Depok dan Karang Tengah Lebak Bulus yang nantinya juga akan bertemu dengan jalan Limo – Maruyung Raya.

sekian dulu postingan saya kali ini semoga bermanfaat !!

Saturday, August 20, 2011

Sejarah, hikmah dan buah Idul Fitri

Arti Kata ‘Id
Untuk khutbah hari ini saya akan menerangkan sedikit latar belakang perihal ‘Id. Umumnya orang Islam belum mengetahui kapan dan bagaimana merayakan ‘Id serta tatacara seperti apa ‘Id pada zaman Rasulullah SAW.
Jadi, pertama-tama akan saya jelaskan arti dari kata ‘id dan dari mana asalnya kata tersebut. ‘Aada – ya’uudu – ‘uudan artinya “kembali ke asal dan balik ke semula, datang berkali-kali”. Berkali-kali datang dan kembali dikatakan sebagai ‘id. Masdarnya adalah ‘uudan. Datangnya sesuatu sesudah yang lain juga digunakan kata ini.
Di dalam bahasa Urdu, kata ‘aadat yang sudah baku asalnya dari kata ‘aud, yang darinya lahir kata ‘iid. Dan bila kita pergi menjenguk (‘iyaadat) orang sakit, kata ‘iyaadat pun berasal dari akar kata itu yang berubah bentuknya. Adat (‘aadat) yang telah melekat pun bisa dikatakan ‘aadat mustamirah (adat kebiasaan yang baku).
Begitu juga dalam Islam, istilah ‘id digunakan untuk kegembiraan, dan sejauh hubungannya dengan menjenguk (‘iyaadat) orang sakit di dalamnya mengandung pengertian bahwa dengan seringnya menjenguk (‘iyaadat) orang sakit maka akan mendatangkan ketenteraman bagi si pasien (orang sakit). Dan karena seringnya menjenguk (‘iyaadat) orang sakit tersebut maka menyebabkan ia (si pasien) mendapat kesembuhan…..
Pendek kata, pada hari ini yang merupakan pengabulan bagi taubat setelah dilakukannya pengorbanan di bulan Ramadhan, ada satu khabar suka dari Tuhan bahwa, “Ibadah kalian terkabul, pengorbanan kalian telah diterima. Allah Yang Mahasuci telah menganugerahkan kepada kalian kehidupan baru nan suci.” Dalam hari kegembiraan yang dirayakan ini dinamakan ‘id. Dan di dalamnya terkandung doa, “Semoga hari ini menghampiri kita berulangkali dan berkali-kali pula kita dapat berkumpul dengan kegembiraan dalam hari yang seperti itu.” …..
‘Id Perdana
Kapan ‘Id dilaksanakan? Tentang hal ini sejauh yang saya selidiki terbukti bahwa Ramadhan pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-2 Hijrah. Dan bukti ini tidak ada sanggahan tertulis dari kitab manapun. Dan pada bulan Ramadhan tersebut sedang terjadi Perang Badar, yang beberapa hari kemudian tiba hari ‘Id dan orang-orang Islam telah merayakan ‘Id pertama setelah perang selesai selagi luka-luka akibat perang belum pulih sepenuhnya.
Tentang Rasulullah SAW sendiri diriwayatkan bahwa keletihan masih membekas pada beliau SAW yang karenanya beliau SAW bersandar pada Hadhrat Bilal RA dan pada saat bersandar itulah beliau menyampaikan khutbah. Inilah ‘Id yang beberapa hari sebelumnya beliau SAW telah mengumumkan Sedekah (Zakat) Fitrah disamping mewajibkannya. Beliau SAW bersabda bahwa Fithrah ‘Id telah diwajibkan atas seluruh sahabat yakni pada waktu itu telah dikumpulkan Fitrah dari orang-orang Islam dan sudah terkumpul sebelum tiba hari ‘Id lalu dibagi-bagikan kepada fakir-miskin pada hari ‘Id atau sesudahnya.
Hafizh Ibnu Katsir pun mengakui riwayat ini dan menerangkan bahwa pada kesempatan ‘Id pertama, mula pertama Rasulullah SAW pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan di sana merayakan ‘Id. Setelah itu semua perayaan ‘Id berjalan (dilakukan) seperti itu yakni semua berkumpul di lapangan terbuka untuk melaksanakan Shalat ‘Id, bukan dalam masjid.
Satu hikmah yang melatarbelakanginya yaitu ‘Id merupakan nama keadaan berkumpulnya orang-orang dari berbagai pelosok yang lebih luas. Bukan hanya berkumpulnya orang-orang sekota di satu masjid jami’ melainkan berkumpulnya orang-orang dari daerah-daerah yang jangkauannya lebih luas dalam satu tempat dan satu sama lain saling gembira. Oleh karena itu lazimnya masjid-masjid biasa akan menjadi kecil dan Rasulullah SAW dengan latar belakang ini telah mengerjakan Shalat ‘Id di lapangan terbuka.
Sebagai batas pemisah, di hadapan beliau SAW ditancapkan tombak dan tombak itulah yang telah dihadiahkan oleh Raja Najasi kepada Hadhrat Zubair RA. Sesudah itu cara inilah yang menjadi kebiasaan. Bila saja Rasulullah SAW hadir mengimami Shalat ‘Id selalu dipasang batas pemisah yang mengarah ke kiblat agar apabila ada yang lewat tidak merusak kekhusu’an shalat. Biasanya batas pemisah yang digunakan tombak atau tongkat dan di masa kemudian hal ini menjadi kebiasaan yang berlanjut…..
Tanpa Adzan dan Iqamat
Ada satu riwayat lain yang juga dituturkan oleh Hadhrat Jabir RA, “Saya bersama Rasulullah SAW hadir shalat pada hari ‘Id. Beliau SAW memimpin shalat sebelum berkhutbah – seperti kebiasaan sampai saat ini – tanpa adzan dan iqamat. Setelah selesai shalat beliau SAW berdiri dengan bersandar pada Bilal RA – ini kira-kira pada kesempatan ‘Id yang pertama – dan beliau menekankan tentang ketakwaan kepada hadirin, menggalakkan tentang ketaatan serta nasehat lainnya. Kemudian beliau SAW menghampiri kaum wanita dan memberikan nasehat-nasehat pula.”
Itulah sebabnya setelah shalat dan khutbah ‘Id, saya pun mendatangi kaum wanita dan memberikan nasehat-nasehat karena ini merupakan sunnah Rasulullah SAW dan ini adalah hak bagi kaum wanita agar mereka didatangi dan diberikan sedikit wejangan. Beliau SAW tidak bicara panjang lebar di depan kaum wanita namun sedikit banyak pasti beliau SAW menyampaikan beberapa patah kata sebagai nasehat.
Nasehat kepada Kaum Wanita
Pada kesempatan itu tatkala diberlakukan Sedekah (Zakat) ‘Idul Fitri, Rasulullah SAW memberikan nasehat kepada kaum wanita supaya membayar sedekah, kalau tidak maka yang terbanyak di antara kaum wanita akan menjadi bahan api neraka. Kemudian seorang wanita berdiri. Dan sesuai dengan penuturan Hadhrat Jabir RA, ia seorang wanita berkulit merah kehitaman yaitu warna hitam yang tidak terlalu pekat, lebih mendekati kemerah-merahan. Begitulah gambaran kulit wanita tersebut.
Ia seorang wanita terhormat di lingkungan masyarakatnya, ia bertanya keheranan, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah? Apakah yang terjadi pada kaum wanita sehingga Yang Mulia memperingatkan perkara neraka?” Rasulullah SAW menjawab, “Karena kalian terlalu banyak berkeluh-kesah dan tidak berterima kasih terhadap suami kalian.”
Menurut Hadhrat Jabir RA bahwa ketika itu kaum wanita melepaskan gelang, kalung, anting-anting mereka dan mengumpulkannya pada kain selendang Hadhrat Bilal RA. Mereka melakukan demikian agar kesalahan dan kelalaiannya dapat terhapus dengan pemberian sedekah tersebut dan Allah Ta’ala ridha atasnya (HR Muslim dan Nasa’i).
Cara Rasulullah SAW Merayakan ‘Idul Fitri
Bagaimana cara Rasulullah SAW merayakan hari ‘Id? Terdapat riwayat di dalam Shahih Bukhari, Kitaabul ‘Iidain dan Shahih Muslim, Kitaabush-Shalaatul ‘Iidain, sebagai berikut: Hadhrat Aisyah RA menerangkan , “Rasulullah SAW pulang ke rumahku, saat itu hari ‘Id. Ketika itu didekatku ada dua orang anak perempuan sedang menyanyikan lagu peperangan Bu’ats. Beliau SAW berbaring di atas dipan dan memalingkan wajah beliau ke tempat lain. Mereka bukan saja memainkan seruling yang biasa digunakan di kalangan orang-orang Arab disertai nyanyian merdu bahkan juga diiringi rebana dan lain-lain. Rasulullah SAW berbaring di atas dipan dan kemudian mengalihkan perhatian ke arah mereka. Lalu dating Abu Bakar RA serta memarahiku dan berkata, ‘Bunyi seruling setan dan rebana di dekat Rasulullah SAW?’. Namun beliau SAW tidak merasa keberatan atas suara merdu tersebut.” (dalam hadits di atas Nabi s.a.w. tidak menganjurkan cara memperingati hari raya dengan tetabuhan dan nyanyian melainkan itulah cara orang habsyi Madinah merayakan kegembiraan. Nabi s.a.w. tdk melarangnya…memberi toleransi karena dari isi nyanyian tdk bertentangan dng ajaran Islam dan hikmah Id. Dildaar)
Seruling, Rebana dan Lagu
Dewasa ini banyak type kyai yang secara bengis menetapkan haram mendengarkan suara merdu wanita. Suara merdu yang bagaimana yang boleh didengar serta memperdengarkan (menyanyikan) tentang apa, ini patut diambil penyelesaiannya yaitu apakah patut mendengarkannya ataukah tidak? Dan ini pun tergantung siapa orang yang mendengarkannya; hal ini sedikit banyak berbeda. Namun walaupun demikian Hadhrat Abu Bakar RA berkata, “Bunyi seruling setan dan rebana di dekat Rasulullah SAW?” dan Rasulullah SAW melihat kepada Hadhrat Abu Bakar RA seraya bersabda, “Biarkan mereka bernyanyi.”
Kemesraan
[Selanjutnya Hadhrat ‘Aisyah RA menceritakan], “Ketika beliau SAW lengah kuisyaratkan kepada kedua anak perempuan itu untuk pergi. Jadi inilah hari ‘Id di mana orang-orang Habsyi bermain pedang dan perisai lalu kukatakan kepada Rasulullah SAW atau barangkali beliau SAW yang mengatakan kepadaku – yakni orang yang meriwayatkan tidak ingat apa yang dikatakan Hadhrat ‘Aisyah RA: Apakah aku yang berkata ataukah Rasulullah SAW sendiri yang mengatakan kepadaku – katanya, ‘Apakah engkau ingin melihat pertunjukan itu?’ Aku jawab, ‘Ya, lalu beliau menyuruhku berdiri di sampingnya dan pipiku dekat dengan pipi beliau. Beliau SAW berkata, ‘Hai Bani Afridah, perlihatkan lagi pertunjukan’, sampai akhirnya aku merasa bosan lalu beliau SAW menyuruhnya berhenti dan menyuruh pergi kedua anak perempuan tersebut.”
Lagu-lagu yang Sopan dalam Perayaan ‘Id dan Pernikahan
Inilah cara kegembiraan yang bersih dan selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW pada hari raya ‘Id bersama-sama dengan istri beliau SAW. Dan ada riwayat mengenai hal itu dalam Shahih Bukhari yang menerangkan bahwa anak perempuan itu bukanlah penyanyi bayaran yang memiliki suara yang bagus. Diriwayatkan pula bahwa Hadhrat Abu Bakar RA mengatakan di hadapan Rasulullah SAW, “Bunyi seruling setan dan rebana?” Riwayat ini menerangkan perihal hari raya ‘Id. Dan di dalam riwayat yang berbeda ini dikatakan bahwa Rasulullah SAW bermaksud untuk memberi pengertian kepada Hadhrat Abu Bakar RA bahwa tiap-tiap kaum mempunyai suatu cara merayakan Hari Rayanya dan sekarang adalah hari raya ‘Id kita. Jadi, pada kesempatan bergembira [mendengarkan] nyanyian anak-anak perempuan tidak dilarang.
Sebagian orang juga menyanggah (melarang) adanya lagu-lagu dan bunyi-bunyian pada waktu perayaan perkawinan serta memperlihatkan tindakan keras yang melampaui batas. Sebaiknya lagu-lagu jangan yang mengandung unsur jorok. Kalau menyanyikan lagu-lagu yang ungkapannya baik dan suci maka tidaklah ada halangan untuk didengar oleh tuan rumah ataupun tamu undangan.
Akan tetapi bila suatu perkara dipandang berlebihan dan melampaui batas maka perkara itu tidak lebih baik bahkan menjadi buruk. Oleh karena itu dalam perkara ini harus diperhatikan proporsi (keseimbangan)nya (Bukhari, Kitaab Al-‘Idain, Baab Sunnatul ‘Idain Lil-Ahlil-Islam).
Hari Raya Pra-Islam
Ada riwayat tentang hari raya ‘Id bahwa Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah mengadakan suatu perayaan selama dua hari yang di dalamnya seluruh kaum ikut bergembira. Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut dikisahkan tentang orang-orang terdahulu yang mereka hormati. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Tuhan telah menetapkan dari dua hari ini sebagai Hari Raya yang terbaik bagimu. Pertama hari raya ‘Idul Fithri dan kedua, hari raya ‘Idul Adh-ha” (Sunan Abu Dawud, Kitaab Ash-Shalat Baab Shaalat ‘Idain).
Menyikapi Istri yang Kurang Bersyukur
….. para wanita ….. berlebih-lebihan seperti sabda Rasulullah SAW bahwa kaum wanita banyak yang tidak bersyukur. Bagaimana sikap Rasulullah SAW? Beliau SAW bersabda, “Khoirukum khoirukum li-ahlihi wa ana khoirukum” (Di antara kalian yang terbaik dalam pandangan Tuhan adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya) dan saya adalah contoh yang terbaik dalam hal perlakuan terhadap istri.”
Rasulullah SAW tidak pernah menampakkan sikap dan tindakan yang tidak terpuji akibat ketidakbersyukuran istri. Beliau SAW memberi pengertian dengan cara yang baik dan kasih-sayang, juga turut mendoakan, hasilnya mereka yang sebelumnya memang wanita-wanita terhormat dan suci di hadapan Tuhan, mereka telah meraih keberhasilan. Mereka setelah mendapat didikan Rasulullah SAW telah menjadi seorang yang bersih dan berkilauan serta meninggalkan suri teladan yang suci bagi generasi wanita selanjutnya.
Ketidakbersyukuran mereka dahulu berubah menjadi rasa syukur yang dalam. Rasa kesadaran mereka dari hari ke hari terus bertambah. Tak ada yang lebih dari keberuntungan seperti itu di masa wanita-wanita itu berada di dalam rumah kehidupan Rasulullah SAW. Jadi, perhatikan suri teladan Rasulullah SAW dan carilah berkat kerohanian dari beliau SAW. Jika tidak demikian, saya meyakinkan Saudara-saudara bahwa karenanya beliau SAW akan berduka. Wanita-wanita yang bukan saja menjadi sasaran aniaya suaminya bahkan ibu/bapak mertua pun turut pula menganiayanya; tentu beragam keadaan deritanya. Pada saat gembira pun tidak dibiarkannya; dan tanpa kesalahan mereka mencaci serta mencercanya…..
Demikian pula ibu mertua pun memperlihatkan kebencian dan mendidik anaknya agar menbenci istrinya. Apakah ia sendiri bukan seorang wanita?! Apakah ia sendiri tidak menjadi sasaran kebencian itu?! Adalah suatu tindakan tercela dan tidak simpati apabila terdapat di lingkungan keluarga Ahmadi; berarti kita tidak pantas untuk menjadi pendidik bagi seluruh dunia.
Eropa dan Emansipasi Wanita
Saat ini masyarakat Eropa tengah menggembar-gemborkan perihal harga diri dan kehormatan wanita dan mereka mencela Islam. Karena menurut anggapan mereka Islam tidak memberi tempat terhormat kepada kaum wanita. Oleh karena itu biarpun Saudara-saudara mengajarkan ribuan kali tetapi apabila Saudara-saudara tidak mendudukkan kaum wanita (istri) pada tempat terhormat di mata masyarakat niscaya Saudara-saudara (para suami) bukanlah orang yang berhak untuk menampilkan wajah Islam kepada bangsa-bangsa lain dengan sempurna sebab dengan perlakuan terbaik terhadap kaum wanita akan tercipta masyarakat yang terbaik yang tidak dapat dijumpai di sini.
Di tengah masyarakat bangsa Eropa gencar dibicarakan soal kebebasan kaum wanita, kehormatan kaum wanita, hak-hak mereka tetapi kenyataannya kaum wanita sendiri pada masyarakat Barat dipermainkan ibarat sebuah barang mainan yang apabila sudah tak berguna keadaannya seperti barang rongsokan yang dibuang yang karenanya pihak keluarganya akan teramat duka. Kebebasan yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebuah semboyan semata tetapi kenyataannya kaum wanita sangat teraniaya. Akibat mabuk berapa banyak kaum wanita yang menjadi korban aniaya dan ini merupakan suatu kenyataan yang sangat mencemaskan.
Oleh karena itu saya tidak mengatakan bahwa keadaan masyarakat Barat ini baik tetapi hal-hal yang baik mesti diakui bahwa itu betul sesuatu yang baik. Kalau harga diri kaum wanita gencar dibicarakan maka sungguh pembicaraan itu suatu hal yang baik meskipun pada prakteknya demikian atau tidak. Bila dibicarakan seputar harga diri dan kehormatan wanita, topik pembicaraan ini bagus akan tetapi yang lebih dari itu bisa diperoleh dalam agama Islam.
Para Suami Harus Berlaku Baik terhadap Istri-istrinya
Perlakuan terhadap wanita seperti yang dipraktekkan Hadhrat Rasulullah SAW apabila kita perhatikan sejarah para nabi yang ada di seluruh dunia yang sampai kepada kita, bisa saja dikatakan bahwa perlakuan yang seperti itu di dunia manapun tidak pernah ada dipraktekkan oleh seorang pria terhadap seseorang wanita. Ini contoh keteladanan bagi kita yang harus kita amalkan di rumah tangga masing-masing maka Saudara-saudara pasti akan memperoleh ‘Id yang hakiki. Jika tidak maka kedukaan akan menimpa Saudara-saudara…..
‘Id yang hakiki baru bias dirasakan manakala Saudara-saudara akan memperlakukan istri-istri seperti perlakuan Rasulullah SAW terhadap istri-istri beliau…..
Lingkungan masyarakat akan menjadikan citra kehidupan surga di rumahnya maka demi Tuhan, Saudara-saudara akan unggul, tidak lambat bahkan akan lebih cepat lagi karena inilah contoh amalan yang saat ini telah dinantikan oleh dunia dan tidak akan didapat contoh ini selain dari rumah tangga Ahmadi. Semoga Allah SWT memberi taufik kepada kita sekalian…..
Saya berpikir bahwa pada kesempatan hari raya ‘Id ini saya harus mengingatkan mereka dan menyampaikan ‘Id Mubarak terlebih dahulu kepada mereka dari kita semua, saya sendiri, atas nama seluruh dunia dan dari seluruh anggota Jemaat di seluruh dunia, saya ucapkan: Assalamu ‘alaikum dan ‘Id Mubarak kepada keluarga orang-orang Ahmadi yang telah syahid dan salam penuh kecintaan serta ‘Id Mubarak dari seluruh warga Jemaat untuk orang-orang yang teraniaya di jalan Allah, baik mereka yang telah menanggung kedukaan dan yang sedang menghadapinya.
Khutbah Kedua
Setelah khutbah kedua dan sebelum berdoa, Hudhur ATBA bersabda, “Sebelum berdoa, sebagai tambahan, saya ingin menyampaikan satu permohonan lagi: agar orang-orang Ahmadi yang berasal dari tempat jauh, dengan rasa kecintaan menanggung kesusahan mengeluarkan biaya serta meninggalkan kebahagiaan ‘Id di rumah dan sengaja datang untuk mengucapkan belasungkawa, kepada semuanya saya haturkan jazakumullah ahsanal jaza dan ‘Id Mubarak. Mari kita berdoa. 

Sumber: Darsus No. 44/1992 (Penerjemah: Mln. H. Zafrullah Nasir, Mbsy).

Monday, August 8, 2011

Aktivitas orang islam di Ramadan

           Selama bulan Ramadan, penganut agama Islam akan berpuasa setiap hari sampai Idul Fitri tiba. Ied artinya Hari Raya. Fithri berasal dari kata fathara artinya 'memecah, mengakhiri". Ied al-Fithri artinya Hari Raya Mengakhiri Puasa (Ramadan).
Hari terakhir dari bulan Ramadan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di dunia. Pada malam harinya (malam 1 syawal), yang biasa disebut malam kemenangan, mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Di Indonesia sendiri ritual ini menjadi tontonan yang menarik karena biasanya para penduduk (yang beragama Islam) akan mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota dan kampung, kadang-kadang dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang api.
Esoknya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, baik laki-laki maupun perempuan muslim akan memadati masjid maupun lapangan tempat akan dilakukannya Salat Ied. Salat dilakukan dua raka'at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan acara saling memberi ma'af di antara para muslim, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan khusus yang menyertai Ramadan.

Salat tarawih

         Pada malam harinya, tepatnya setelah salat isya, para penganut agama Islam melanjutkan ibadahnya dengan melaksanakan salat tarawih. Salat khusus yang hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Salat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, umumnya dilakukan secara berjama'ah di masjid-masjid. Terkadang sebelum pelaksanaan salat tarawih pada tepat-tempat tertentu, diadakan ceramah singkat untuk membekali para jama'ah dalam menunaikan ibadah pada bulan bersangkutan.

 Tadarusan
       Istilah tadarus Al-Quran sebenarnya agak berbeda antara bentuk yang kita saksikan sehari-hari denganmakna bahasanya. Tadarus atau tadarusan biasanya berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Dan umumnya dilaksanakan di masjid atau mushalla di malam-malam bulan Ramadhan. Padahal kata tadarus berasal dari asal kata darasa yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadarasa yatadarasu, makamaknanya bertambah menjadisaling belajar, atau mempelajari secara lebih mendalam.

Ngabuburit
  • Pada bulan ini pada sebagian daerah di Indonesia, berkembang kebiasaan jalan-jalan sembari menunggu waktu berbuka, di Bandung kebiasaan ini dikenal dengan nama Ngabuburit, di Indramayu dikenal dengan nama Luru Sore (Cari Sore). Biasanya saat ini juga dimanfaatkan untuk membeli makanan dan minuman untuk dipergunakan saat berbuka puasa.

  • Di Indonesia umummnya orang berbuka puasa dengan yang manis-manis, padahal hidangan yang mengadung gula tinggi justru akan mengakibatkan dampak yang buruk bagi kesehatan. Hal ini berasal dari kesimpulan yang tergesa-gesa atas sebuah hadits bahwa Rasulullah berbuka puasa dengan kurma. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa berbuka (disunahkan) dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat.

Peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadan

  1. Perang Badar: 17 Ramadan 2 AH - Adalah pertempuran pertama yang dilakukan kaum Muslim setelah mereka bermigrasi (hijrah) ke Madinah melawan kaum Quraisy dari Mekkah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang berkekuatan 313 orang melawan sekitar 1000 orang dari Mekkah.

  2. Pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib: 21 Ramadan 40 H: Khulafaur Rasyidin keempat dan terakhir, dibunuh oleh seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Ia meninggal pada tanggal 23 Ramadan tahun itu juga. Kematiannya menandai berakhirnya sistem kekhalifahan Islam, dan kemudian dimulai dengan sistem dinasti.

Ramadan

     Ramadan atau Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah(sistem penanggalan agama Islam).Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, salat tarawih, peringatan turunnya Al-Quran, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Al-Quran dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri.
     Ramadan berasal dari akar kata ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh segatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.
     Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Wallahu `alam.

Nuzulul Qur'an


     Nuzulul Qur'an yang secara harfiah berarti turunnya Al Qur'an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi dan rasul terakhir agama Islam yakni Nabi Muhammad SAW.
Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat 1-5 yang bila diterjemahkan menjadi :
  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

  3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

     Saat wahyu ini diturunkan Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira, ketika tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut. Adapun mengenai waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagian menyakini peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awal pada tanggal 8 atau 18 (tanggal 18 berdasarkan riwayat Ibnu Umar), sebagian lainnya pada bulan Rajab pada tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah, dan lainnya adalah pada bulan Ramadhan pada tanggal 17 (Al-Bara' bin Azib) ,21 (Syekh Al-Mubarakfuriy) dan 24 (Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo' )
     Sebagian muslim, memperingati waktu terjadinya peristiwa tersebut secara khusus. Di Indonesia setiap tanggal 17 Ramadhan, biasanya dilakukan ceramah atau pengajian khusus bertemakan Nuzulul Qur'an.

Thursday, August 4, 2011

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Segala puji  bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya. Semua pasti telah mengetahui keutamaan malam Lailatul Qadar. Namun, kapan malam tersebut datang? Lalu adakah tanda-tanda dari malam tersebut? Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan malam yang keutamaannya lebih baik dari 1000 bulan.

Keutamaan Lailatul Qadar
Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1)
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ - يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ - فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)
Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”  (HR. Bukhari)

Catatan : Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini. Amin Ya Sami’ad Da’awat.
Tanda Malam Lailatul Qadar
[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi.  Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)
[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)
Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih malam tersebut. Amin Yaa Mujibas Saailin.

Wednesday, August 3, 2011

JADWAL DI BULAN PUASA

Jadwal Imsakiyah Ramadhan Terbaru 2011


Jadwal Imsakiyah Ramadhan – Tak terasa, sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Bulan Suci Ramadhan, ini berarti kita masih diberikan berkah yang sangat besar karena masih diberikan nikmat melalui bulan seribu bulan. Bulan yang penuh dengan rahmat, barokah dan ampunan, yang ditunggu-tunggu umat muslim seluruh Dunia.
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa “( QS Al-Baqarah : 183 )
Bagi umat muslim, ibadah puasa adalah sebuah kewajiban di Bulan Ramadhan. Untuk itu, berikut saya berikan Jadwal Imsakiyah untuk hampir seluruh kota besar di Indonesia. Semoga ini dapat membantu teman-teman yang akan melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan..
Share
Facebook
Dibaca 6.245 kali

Entri Populer